Kerugian Akibat Kasus Pertamina Lebih dari Rp 1 Kuadriliun
jessecar96.com – Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengungkapkan bahwa kerugian akibat kasus Pertamina bisa mencapai lebih dari Rp 1 kuadriliun jika dihitung sejak perusahaan ini pertama kali berdiri. Pernyataan ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan YouTube Liputan 6 pada Senin, 3 Maret 2025.
“Saya kira lebih dari itu kalau dari zamannya Pertamina berdiri,” kata Ahok dalam wawancara tersebut.
Menurut Ahok, berbagai praktik yang merugikan negara telah terjadi sejak lama di tubuh Pertamina. Ia juga menyoroti bagaimana Kejaksaan Agung (Kejagung) selama ini menghitung kerugian dari berbagai sektor, seperti dalam kasus tambang timah. Namun, ia mempertanyakan mengapa pihak berwenang tidak melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap keuangan dan pengadaan di Pertamina sejak perusahaan itu didirikan.
Kejaksaan Agung Diminta Audit dari Awal
Dalam pernyataannya, Ahok menyinggung bagaimana Kejagung menghitung kerugian di sektor pertambangan, seperti kasus timah yang disebut-sebut memiliki dampak lingkungan sejak zaman kolonial Belanda. Ia mempertanyakan mengapa hal serupa tidak dilakukan terhadap Pertamina.
“Maksud saya Kejagung. Ini mohon maaf Kejagung ya, Anda melakukan perhitungan kerugian timah, dari zaman Belanda melihat kerugian ekonomi dihitung,” ucapnya.
Ia juga menyoroti bahwa selama ini ada banyak praktik yang dibiarkan begitu saja tanpa ada jessecar96.com. “Sampai orang dipenjara 20 tahun gara-gara seolah-olah kerugian lingkungan dari zaman Belanda dihitung. Padahal semua menggarong dibiarkan, ada aparat semua biarkan,” tambahnya.
Menurut Ahok, jika benar-benar dilakukan audit sejak awal, kerugian yang ditemukan di Pertamina bisa lebih dari seribu triliun rupiah. “Pertanyaan gua, kenapa gak dicek pengadaan Pertamina dari zaman Pertamina berdiri, permainan aditif lagi dari zaman dulu, mesti hitung dong, tambahin, kalau mau lebih seru bukan hanya seribu triliun, seratus juta triliun, kalau mau,” tegasnya.
Borosnya Keuangan Pertamina

Lebih lanjut, Ahok menyoroti bagaimana Pertamina masih melakukan ekspor minyak mentah dengan harga tinggi tetapi tidak pernah mendapatkan keuntungan yang signifikan. Ia membandingkan pengelolaan keuangan Pertamina sebelum dan setelah ia masuk sebagai Komisaris Utama.
“Hitung dari zaman Pertamina berdiri dulu, nyolongnya kayak apa. Pertamina masih ekspor minyak mentah seratus dolar per barel, tapi tidak pernah mencapai keuntungan dua miliar dolar,” ungkapnya.
Ahok mengklaim bahwa saat ia menjabat sebagai Komisaris Utama, meski dalam kondisi pandemi COVID-19, ia bisa meningkatkan efisiensi dan mendapatkan keuntungan lebih dari dua miliar dolar, yang sebelumnya sulit dicapai oleh perusahaan tersebut.
“Saya masuk di tengah COVID-19, dengan optimalisasi saja dengan teken biaya, itu bisa dapat 2,2 miliar dolar. Terakhir saya dapat 4,77 miliar dolar. Artinya apa? Boros banget ini,” jelasnya.
Kritik terhadap Manajemen Pertamina
Sebagai mantan Komisaris Utama, Ahok kerap mengkritik manajemen Pertamina yang dinilai tidak efisien dalam pengelolaan keuangan dan pengadaan barang. Ia menilai bahwa banyak kebijakan yang diambil selama ini lebih menguntungkan pihak tertentu daripada negara.
“Seharusnya, kita bisa memaksimalkan keuntungan dengan lebih transparan dan efisien. Jangan sampai uang negara terus menerus bocor akibat kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam setiap proses bisnis di Pertamina agar tidak ada celah bagi praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan yang berpotensi merugikan negara.
Tanggapan Publik dan Pemerintah
Pernyataan Ahok ini sontak menimbulkan berbagai reaksi dari publik dan pemerintah. Beberapa pihak mendukung audit menyeluruh terhadap Pertamina untuk mengetahui besaran kerugian sebenarnya. Sementara itu, beberapa pengamat menilai bahwa investigasi terhadap keuangan Pertamina harus dilakukan secara profesional dan independen untuk menghindari kepentingan politik tertentu.
Pemerintah sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait desakan Ahok untuk mengaudit ulang Pertamina dari awal berdiri. Namun, Kejaksaan Agung telah menyatakan bahwa mereka akan terus menindaklanjuti berbagai kasus yang melibatkan perusahaan plat merah ini.

Pernyataan Ahok?
Tentang potensi kerugian Pertamina yang mencapai lebih dari Rp 1 kuadriliun mengungkapkan perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan perusahaan BUMN ini. Jika benar praktik korupsi dan pemborosan telah berlangsung sejak lama, maka audit menyeluruh bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki sistem yang ada dan mencegah kebocoran keuangan negara di masa depan. Apakah pemerintah dan aparat hukum akan merespons desakan ini dengan tindakan konkret? Publik tentu akan menantikan perkembangannya.
Fakta Menarik :
- Hero Pemula Mobile Legends Yang Mudah Digunakan
- Ribuan Karyawan Perusahaan Sritex Kena PHK Massal
- 10 Ribu Unit Mobil Listrik SU7 Ultra Terjual Di Tiongkok
Jangan lewatkan ulasan terbaru kami : jessecar96.com
