Antara Santet, Laut Selatan, dan Industri yang Makin Tumbuh Dewasa
Ada masa ketika film horor lokal hanya diingat karena teriakan, kaget-kagetan, dan sosok perempuan berambut panjang di pojok layar. Namun Santet Segoro Pitu, yang kini tayang di Netflix, memilih pendekatan berbeda. Lebih sunyi, lebih dingin, lebih terasa.
Sutradara Tommy Dewo, yang mengadaptasi film ini dari sebuah thread viral di platform X, tampaknya paham bahwa rasa takut tak selalu datang dari yang teriak paling keras. Terkadang, cukup satu kata: “santet.”
Dan ini bukan sembarang santet. Santet segoro pitu, yang konon meminjam kekuatan dari tujuh lautan, termasuk yang bersemayam di Pantai Selatan. Narasi yang cukup dalam untuk jadi horor, dan cukup nyata untuk jadi bahan obrolan panjang di warung kopi.
Muncul dari Lini Masa, Bertumbuh Jadi Sinema
Film ini tidak muncul dari ruang produksi yang steril. Ia lahir dari thread yang dibaca lebih dari 8 juta kali. Cerita tentang keluarga yang terseret konflik bisnis hingga dihantam ilmu hitam.
Dari tulisan singkat yang awalnya hanya berseliweran di X (dulu Twitter), kini hadir sebagai narasi visual yang gelap dan menggigit. Dalam format sinema, kisahnya menemukan dimensi baru: gambar yang bisa dilihat, ketegangan yang bisa dirasakan.
Netflix jadi panggung baru setelah penayangannya di bioskop pada November 2024. Dan ya, angka satu juta penonton adalah hal yang tidak bisa dianggap enteng.
Bahasa Lokal yang Membumi, Bukan Gimmick
Ada satu keputusan kreatif yang terasa jujur dalam Santet Segoro Pitu: penggunaan bahasa Jawa. Bukan sebagai eksotisme atau tempelan. Tapi sebagai bagian dari realitas, konteks, dan ritme sehari-hari para karakter.
Para pemain seperti Ari Irham dan Christian Sugiono pun mengaku kesulitan menyesuaikan lidah mereka. Tapi dari layar, hal itu justru memberi kesan otentik. Kita merasa sedang menonton sesuatu yang lahir dari dalam—bukan hasil fabrikasi kota besar.

Hal Gaib, Lokasi Nyata
Yogyakarta dan Magelang dipilih sebagai lokasi syuting. Tempat yang punya aroma mistis tersendiri, bahkan tanpa naskah film sekalipun. Maka tak heran, ketika syuting berlangsung, gangguan ikut hadir tanpa perlu dipanggil.
Salah satu aktris, Sandrina Michelle, menyebutkan kejadian kesurupan di siang bolong. Beberapa benda pun dilaporkan bergerak sendiri. Apakah ini bagian dari promosi? Mungkin tidak. Tapi efeknya nyata: membuat cerita di layar menjadi lebih hidup—atau lebih hidup dari yang seharusnya.
Fakta Menarik : Film Horor Kuasa Gelap Eksorsisme Indonesia
Karakter yang Tidak Sekadar Properti
Sara Wijayanto—nama yang sudah akrab dengan dunia spiritual melalui kanal YouTube-nya—mendapat ruang di film ini. Bukan hanya sebagai pemeran, tapi juga sebagai seseorang yang membawa perspektif berbeda selama proses produksi.
Berperan sebagai Marni, ia memberi dimensi baru pada sosok ibu rumah tangga yang tak hanya berurusan dengan dapur, tapi juga dunia yang tak kasat mata. Dalam wawancaranya, Sara menyebut proyek ini sebagai sesuatu yang dekat dengan apa yang selama ini dia eksplorasi: interaksi manusia dengan dunia yang tak terlihat, tapi terasa.
Horor sebagai Ruang Refleksi Budaya
Yang menarik dari Santet Segoro Pitu bukan hanya tekniknya, tapi intensitasnya. Film ini memberi ruang bagi penonton untuk merenung di tengah rasa tidak nyaman. Ia menegangkan, tapi bukan untuk sensasi semata. Ia seram, tapi tidak berisik.
Narasi ini membawa horor lokal naik kelas—bukan untuk menjadi Hollywood, tapi untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan estetika, ritme, dan bahasa yang lahir dari tanahnya sendiri.
Akhir yang Bukan Akhir
Saat Santet Segoro Pitu muncul di Netflix, ia menyapa audiens baru. Penonton yang mungkin tidak sempat ke bioskop. Tapi juga penonton yang mencari sesuatu lebih dari sekadar teriakan atau hantu berpenampilan template.
Film ini menunjukkan bahwa budaya dan horor bisa bersanding tanpa harus saling menutupi. Mereka bisa bercerita bersama. Bisa menakutkan, tapi juga bisa menyentuh.
Dan mungkin, santet bukan sekadar sihir dari masa lalu. Tapi cara masa kini menceritakan luka yang tidak disembuhkan, konflik yang tidak selesai, dan ketakutan yang tak selalu bisa dijelaskan.
Kadang, yang mistis justru hadir saat semuanya terlihat nyata.
Dapatkan insight baru lewat: jessecar96.com

