Banjir Bekasi dan Setumpuk Masalah Hulu ke Hilir

banjir bekasi

Analisi Masalah Banjir Bekasi?

Banjir besar kembali melanda Bekasi, menyebabkan ribuan rumah terendam dan puluhan ribu warga terdampak. Luapan Kali Bekasi menjadi faktor utama yang membuat banjir tahun ini lebih parah dibanding sebelumnya.

Berdasarkan data terbaru, 22.856 KK terdampak, dengan Jatiasih menjadi wilayah terparah. Setidaknya ada tujuh perumahan yang terendam, termasuk Vila Jatirasa, Kemang Ifi, Pondok Mitra Lestari, Pondok Gede Permai, dan Perumahan AL.

Namun, banjir Bekasi bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akumulasi dari buruknya tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS), alih fungsi lahan, dan kurangnya regulasi yang ketat.

Faktor Penyebab Banjir Bekasi

Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, banjir Bekasi terjadi akibat berbagai faktor, antara lain:

  • Curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
  • Alih fungsi lahan DAS Kali Bekasi menjadi permukiman, menyebabkan air hujan tidak terserap dengan baik.
  • Deforestasi besar-besaran, hutan di sekitar DAS hanya tersisa 1.700 hektare (2% dari total luas DAS 147 ribu hektare).
  • Pembangunan perumahan di daerah rawan banjir, bahkan ada yang berdiri di bantaran sungai.

“DAS Kali Bekasi kini diperuntukkan bagi perumahan. Sifat air itu akan kembali ke aliran alaminya suatu saat nanti,” ujar Iqbal.

Dalam data Greenpeace, luas permukiman di DAS Kali Bekasi meningkat drastis:

  • Tahun 1990: Permukiman hanya 7.455 hektare (5,1%).
  • Tahun 2022: Permukiman meluas menjadi 61.297 hektare (42%).

Sebaliknya, sawah dan lahan pertanian terus menyusut, mengurangi daerah resapan air.

Fakta Menarik : Banjir Bekasi Satu Penyebab Ratusan Dampak

Normalisasi Sungai & Pengerukan Kali Bekasi Mandek

banjir bekasi
Foto: Dok. Polairud Baharkam Polri

Salah satu solusi yang pernah direncanakan untuk mengatasi banjir adalah normalisasi Kali Bekasi, yang sudah direncanakan sejak 2020.

Terdapat tujuh paket proyek normalisasi Kali Bekasi, namun hingga saat ini baru satu proyek yang berjalan.

“Seharusnya pemerintah daerah bertanggung jawab menyiapkan lahan, tapi mandek karena keterbatasan dana,” ungkap Puarman, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C).

Jika normalisasi Kali Bekasi terus tertunda, maka banjir akan terus berulang setiap tahunnya.


Solusi Permanen untuk Cegah Banjir Bekasi

Puarman dan KP2C mengusulkan enam solusi konkret untuk menyelesaikan permasalahan banjir Bekasi:

1. Penerapan Konsep Zero Delta Q

Setiap pembangunan baru tidak boleh menambah debit air ke sungai. Konsep ini telah menjadi isu global yang dibahas dalam World Water Forum (WWF) di Bali.

2. Pembangunan Polder Tebus Dosa

Perumahan yang sudah berdiri harus membangun polder penampungan air agar limpasan hujan tidak langsung masuk ke sungai.

“Sudah terlanjur ada perumahan, solusinya mereka harus bangun polder yang setara dengan debit air yang dihasilkan,” jelas Puarman.

3. Percepatan Normalisasi Kali Cileungsi & Cikeas

Normalisasi mencakup pengerukan sungai, pelebaran, dan pembangunan tanggul.

4. Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Kali Bekasi

Pemda yang kekurangan dana harus mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

“Jika daerah tidak bisa menyiapkan lahan, maka pusat harus turun tangan,” kata Puarman.

5. Perubahan Pola Operasi Bendung Bekasi

Saat ini, Bendung Bekasi lebih mengutamakan penyediaan air baku minum dibanding pengendalian banjir.

Pola operasi ini perlu dievaluasi agar keseimbangan antara kebutuhan air dan mitigasi banjir tetap terjaga.

6. Peringatan Dini & Modifikasi Cuaca

BMKG telah memperingatkan cuaca ekstrem sejak Desember 2024, tetapi langkah mitigasi masih kurang maksimal.

Teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah terbukti mengurangi dampak banjir di Jakarta, dan seharusnya bisa diterapkan juga di Bekasi.

Fakta Menarik : Upaya Perbaikan Dampak Banjir Daerah Bekasi


Bekasi Butuh Solusi Jangka Panjang

banjir bekasi
Banjir merendam Kampung Gabung di Desa Srijaya dan Desa Srimukti, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat,

Banjir di Bekasi bukan hanya masalah cuaca, tetapi juga dampak dari perencanaan tata ruang yang buruk, alih fungsi lahan, dan mandeknya proyek normalisasi sungai.

Pemerintah harus segera mengambil langkah tegas agar masalah banjir ini tidak berulang.

“Solusi penanganan banjir ini bukan hanya sembako atau air mineral. Kita butuh solusi permanen.” – Puarman, KP2C.

Masyarakat Bekasi tidak bisa terus-menerus menjadi korban, sementara solusi sudah lama dicanangkan tetapi tak kunjung dieksekusi. Apakah pemerintah siap bertindak sebelum banjir berikutnya datang

Jangan lewatkan ulasan terbaru kami : jessecar96.com