Selat Hormuz masih tertutup per 10 April 2026 — Iran menutup kembali jalur vital ini pada 8 April 2026 setelah Israel menyerang Lebanon, yang dianggap Teheran sebagai pelanggaran gencatan senjata dua pekan yang baru saja disepakati dengan Amerika Serikat. Iran menegaskan selat hanya akan dibuka jika Israel menghentikan total serangannya ke Lebanon.
Tiga fakta kunci yang harus kamu tahu hari ini:
- Penutupan dipicu serangan Israel 8 April 2026 — lebih dari 100 lokasi Hizbullah di Lebanon dihantam dalam 10 menit, menewaskan sedikitnya 254 orang
- 20% pasokan minyak global terganggu — setara 20 juta barel per hari yang tidak bisa dialihkan sepenuhnya ke jalur alternatif
- Gedung Putih menyatakan penutupan “tidak dapat diterima” — Amerika menuntut selat segera dibuka tanpa syarat
Apa Itu Selat Hormuz dan Mengapa Penutupannya Guncang Dunia?

Selat Hormuz adalah jalur laut tersempit dan terpenting di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman — dengan lebar hanya 33 kilometer di titik tersempit, namun menjadi urat nadi distribusi energi global yang mengalirkan sekitar 20–21 juta barel minyak per hari, setara dengan 20–25 persen konsumsi minyak bumi global.
Bukan sekadar jalur biasa. Selat ini juga membawa sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia, sebagian besar berasal dari Qatar. Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak semuanya mengekspor minyak mentah mereka melalui sini — terutama ke Asia. China menyerap 38 persen dari volume yang melintas, India 15 persen, Korea Selatan 12 persen, dan Jepang 11 persen.
Ketika selat ini ditutup, dunia tidak bisa langsung beralih ke jalur alternatif. Total kapasitas jalur pipa bypass di Arab Saudi dan UEA hanya mampu menampung sekitar 15–20 persen dari volume normal. Sisanya — 16 hingga 20 juta barel per hari — tidak punya jalan lain.
Inilah mengapa konflik Iran, Israel, dan Lebanon yang terlihat seperti perang regional langsung menjadi krisis ekonomi global.
| Fakta Selat Hormuz | Data 2026 |
| Volume minyak harian | 20–21 juta barel/hari |
| Porsi konsumsi minyak global | 20–25% |
| Volume LNG yang melintas | ~20% perdagangan LNG dunia |
| Lebar di titik tersempit | 33 kilometer |
| Kapasitas jalur alternatif | hanya 15–20% dari volume normal |
| Pembeli terbesar | China (38%), India (15%), Korea Selatan (12%), Jepang (11%) |
Sumber: Universitas Jenderal Soedirman, IEA Oil Market Report Maret 2026, Bloomberg
Key Takeaway: Selat Hormuz bukan sekadar jalur kapal — ia adalah instrumen geopolitik paling deterministik di abad ke-21. Siapa yang menguasai selat ini, menguasai leverage atas sepertiga ekonomi dunia.
Kronologi: Bagaimana Selat Hormuz Ditutup Lagi pada 8 April 2026?

Peristiwa penutupan kembali Selat Hormuz pada April 2026 tidak terjadi tiba-tiba. Ini adalah puncak dari rangkaian eskalasi yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
28 Februari 2026 — Operasi Epic Fury dimulai. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi ke Iran. Pemimpin Agung Ali Khamenei tewas. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) segera menutup Selat Hormuz. Harga minyak WTI yang semula berada di $57,72 per barel langsung melesat.
Maret 2026 — Krisis energi memuncak. Harga minyak mentah Brent menembus $100 per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun, lalu mencapai puncak di $115–126 per barel. Indonesia yang hanya punya cadangan BBM untuk 20 hari mulai panik. Dua kapal tanker Pertamina — VLCC Pertamina Pride dan PIS Gamsunoro — sempat tertahan di kawasan selat.
7 April 2026 — Gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Setelah mediasi Pakistan, Presiden Trump dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyetujui. Selat sempat dibuka, dua kapal tanker diizinkan melintas. Dunia bernapas lega sebentar.
8 April 2026 — Israel menyerang Lebanon, selat ditutup kembali. Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata berlaku, Israel meluncurkan serangan terbesar ke Lebanon — lebih dari 100 target Hizbullah dihantam dalam 10 menit, mencakup Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa. Sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya luka-luka dalam satu hari.
Iran langsung bereaksi. Kantor berita Fars News melaporkan Teheran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
9–10 April 2026 — Ketegangan memuncak. Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan penutupan “tidak dapat diterima” dan menuntut selat dibuka segera. Iran balas mengancam akan kembali berperang jika pelanggaran gencatan senjata terus terjadi. Perundingan damai di Islamabad tetap dijadwalkan 10 April 2026, meski situasi di lapangan sangat rapuh.
| Tanggal | Peristiwa |
| 28 Feb 2026 | Operasi Epic Fury — AS + Israel serang Iran, Selat Hormuz ditutup |
| 8 Mar 2026 | Harga Brent tembus $100/barel untuk pertama kali dalam 4 tahun |
| 9 Mar 2026 | WTI sentuh puncak $115,68/barel — naik 100% dari awal tahun |
| 7 Apr 2026 | Gencatan senjata AS-Iran 2 pekan disepakati, selat sempat dibuka |
| 8 Apr 2026 | Israel serang Lebanon, Iran tutup kembali Selat Hormuz, 254 tewas |
| 9 Apr 2026 | Gedung Putih nyatakan penutupan “tidak dapat diterima” |
| 10 Apr 2026 | Perundingan Islamabad dijadwalkan, situasi masih kritis |
Sumber: Associated Press, Fars News, Kompas.com, Valbury.co.id
Key Takeaway: Akar masalahnya adalah perbedaan tafsir gencatan senjata — Iran menganggap Lebanon termasuk dalam cakupan perjanjian, sementara Israel bersikeras Lebanon bukan bagian dari kesepakatan.
Mengapa Iran Tutup Selat Hormuz: Beda Tafsir yang Memicu Krisis

Iran dan Israel punya interpretasi yang bertolak belakang soal cakupan gencatan senjata — dan perbedaan inilah yang membuat Selat Hormuz kembali tertutup.
Teheran berargumen bahwa gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mencakup penghentian seluruh serangan militer di kawasan, termasuk terhadap Lebanon dan Hizbullah. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebagai mediator, bahkan secara eksplisit menyebut gencatan senjata berlaku untuk Lebanon.
Israel menolak keras. Tel Aviv bersikeras Lebanon tidak termasuk dalam poin kesepakatan gencatan senjata sementara dua pekan. Kepala Staf Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menegaskan Israel akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyerang Hizbullah.
Bagi Iran, ini bukan sekadar soal Lebanon. Ini soal apakah sekutunya bisa dilindungi dari serangan Israel. Sumber keamanan Iran kepada Fars News menyatakan pihaknya sedang menyiapkan rencana untuk melakukan operasi pencegahan terhadap posisi militer Israel jika pelanggaran gencatan senjata terus terjadi.
Syarat-syarat gencatan senjata versi Iran — sebagaimana dilaporkan BBC dari siaran televisi pemerintah Iran — mencakup antara lain: penghentian total perang di Irak, Lebanon, dan Yaman; penghentian permanen perang di Iran tanpa batas waktu; pembukaan kembali Selat Hormuz; dan kebebasan navigasi yang dijamin. Satu klausul lain yang jadi sorotan: Iran menyebut perjanjian memungkinkan mereka memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melewati selat.
Amerika Serikat tegas menolak biaya transit ini. Gedung Putih menegaskan prioritas utamanya adalah memastikan selat dibuka tanpa hambatan, termasuk tanpa pungutan biaya bagi kapal yang melintas.
Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menuduh Israel “secara konsisten berusaha menggagalkan” kesepakatan gencatan senjata. Hizbullah sendiri belum memastikan apakah akan mematuhi gencatan senjata, meski mereka terbuka untuk memberi kesempatan pada mediator.
Key Takeaway: Selama ambiguitas tafsir gencatan senjata ini belum diselesaikan secara eksplisit — khususnya soal status Lebanon — Selat Hormuz akan terus menjadi kartu truf Iran.
Dampak Ekonomi: Berapa Kerugian Dunia dari Penutupan Selat Hormuz?
Penutupan Selat Hormuz 2026 sudah tercatat sebagai salah satu guncangan energi terbesar dalam sejarah modern — bahkan lebih besar dari krisis minyak 1970-an dalam hal volume yang terganggu.
Harga minyak. Harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 100 persen hanya dalam 67 hari sejak Operasi Epic Fury — dari $57,72 per barel di awal tahun hingga menyentuh $115,68 pada 9 Maret 2026. Harga Brent menembus $126 per barel. IRGC bahkan pernah mengancam harga bisa menyentuh $200 per barel jika konflik berlanjut. Goldman Sachs memproyeksikan Brent di $110 per barel untuk periode Maret–April 2026.
Krisis energi Asia. India mengalihkan pasokan LPG dari industri ke rumah tangga. Korea Selatan memberlakukan pembatasan bahan bakar pertama kali dalam hampir 30 tahun. Jepang melepaskan cadangan minyak nasional. Thailand membatasi harga solar.
Dampak ke Indonesia. Sebagai negara net importir minyak dengan ketergantungan impor 55–65 persen dari kebutuhan domestik, Indonesia sangat terpukul. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak sekitar $70 per barel — jauh di bawah harga aktual. Harga avtur melonjak 72 persen sejak 1 April 2026. Defisit APBN berpotensi jebol di atas 3,3 persen PDB. Dalam skenario harga minyak di $100–120 per barel, beban tambahan subsidi bisa mencapai Rp515 triliun. Cadangan BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari — jauh di bawah standar IEA yang merekomendasikan 90 hari.
| Dampak Ekonomi | Data |
| Kenaikan harga WTI (awal tahun ke puncak) | +100% dalam 67 hari (ke $115,68/barel) |
| Harga Brent tertinggi 2026 | ~$126/barel |
| Volume minyak terganggu | 16–20 juta barel/hari |
| Kenaikan harga avtur di Indonesia | +72% sejak 1 April 2026 |
| Potensi beban tambahan APBN Indonesia | hingga Rp515 triliun |
| Cadangan BBM nasional Indonesia | hanya cukup 20 hari |
| Target standar IEA | 90 hari cadangan |
Sumber: Valbury, Pluang.com, Universitas Jenderal Soedirman, Media Indonesia, IEA
Key Takeaway: Para ekonom seperti Lars Jensen mengingatkan bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka besok, kekurangan minyak dari stok yang terkuras selama penutupan akan terus memburuk dalam jangka pendek.
Skenario ke Depan: Kapan Selat Hormuz Bisa Dibuka?
Per 10 April 2026, ada tiga skenario utama yang diperhitungkan pasar dan analis geopolitik.
Skenario 1 — De-eskalasi parsial (probabilitas 45%). Perundingan Islamabad pada 10 April 2026 menghasilkan kesepakatan yang lebih eksplisit mencakup Lebanon. Israel setuju menghentikan sementara operasinya di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang diperluas. Selat Hormuz dibuka kembali dalam 3–7 hari. Harga minyak WTI stabil di kisaran $85–100 per barel.
Skenario 2 — Resolusi cepat (probabilitas lebih rendah). Tekanan diplomatik internasional dari PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Asia yang paling terdampak (China, India, Jepang, Korea Selatan) berhasil mendorong gencatan senjata yang komprehensif. Selat dibuka dalam 48 jam. Harga minyak bisa kembali ke kisaran $60–70.
Skenario 3 — Eskalasi meluas (risiko terburuk). Iran melancarkan operasi pencegahan terhadap posisi militer Israel seperti yang diancamkan. Gencatan senjata dengan AS runtuh total. Selat Hormuz tetap tertutup lebih dari sebulan. Dalam skenario ini, WTI berpotensi menembus $120–150 per barel, memicu risiko stagflasi global.
IRGC sendiri sudah menyiapkan langkah teknis. Mereka merancang rute navigasi darurat melalui wilayah utara Pulau Larak di kawasan Laut Oman — kapal masuk dari sisi utara Pulau Larak, keluar dari sisi selatan menuju Laut Oman. Kapasitas yang direncanakan: hanya 12 kapal per hari, dengan biaya transit yang belum diterima AS.
Satu hal yang jelas: selama Israel belum menghentikan operasinya di Lebanon, Iran tidak akan membuka selat. Dan selama Iran menutup selat, ekonomi global akan terus merasakan tekanan.
Respons Global: Siapa Bilang Apa?
Penutupan kembali Selat Hormuz pada 8 April 2026 langsung memicu reaksi dari berbagai pihak.
Amerika Serikat bergerak cepat. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan penutupan “sama sekali tidak dapat diterima” dan menegaskan Presiden Trump menuntut selat dibuka segera, tanpa pungutan biaya apapun. AS juga mengancam mengenakan tarif 50 persen bagi negara yang memasok senjata ke Iran.
Iran tetap pada posisinya. Pejabat senior menyatakan siap kembali bertempur kapan saja dan menegaskan gencatan senjata tanpa cakupan Lebanon pada dasarnya tidak bermakna. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi kesepakatan gencatan dua pekan dengan AS yang dimediasi Pakistan, namun menuntut implementasinya mencakup Lebanon.
Israel tidak bergeming. Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir menegaskan Israel akan terus menyerang Hizbullah. Tel Aviv bersikukuh Lebanon bukan bagian dari perjanjian gencatan senjata dengan Iran.
Hizbullah meluncurkan roket ke Manara di Israel utara pada pukul 02.30 dini hari 9 April 2026 sebagai respons atas serangan Israel. Enam tentara Israel dilaporkan tewas di Lebanon selatan.
PBB mengecam keras. Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk menyebut skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon pada 8 April sebagai sesuatu yang “di luar nalar” — terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata disetujui.
Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menuduh Israel secara konsisten berusaha menggagalkan kesepakatan gencatan senjata.
Pakistan sebagai mediator berada di posisi sulit — Perdana Menteri Shehbaz Sharif sebelumnya menyebut gencatan berlaku untuk Lebanon, namun Israel mengabaikan pernyataan tersebut.
Dampak bagi Indonesia: Apa yang Perlu Diwaspadai?
Indonesia bukan penonton pasif dalam krisis ini. Sebagai negara net importir minyak terbesar di Asia Tenggara, dampak penutupan Selat Hormuz langsung terasa di berbagai sektor.
Risiko fiskal. APBN 2026 disusun dengan asumsi minyak $70 per barel. Dengan harga aktual di $100–126, potensi pembengkakan subsidi energi bisa mencapai Rp210 triliun hingga Rp515 triliun. Defisit APBN berpotensi melampaui batas hukum 3 persen dari PDB.
Kapal tanker Pertamina. Dua kapal tanker Pertamina — VLCC Pertamina Pride dan PIS Gamsunoro — sempat tertahan di kawasan Selat Hormuz. Mereka baru mendapat izin melintas setelah komunikasi intensif melalui jalur tidak resmi dengan bantuan Malaysia. Insiden ini memperlihatkan kerentanan logistik energi Indonesia yang nyata.
Cadangan energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan BBM nasional masih aman untuk sekitar 20 hari. Jauh di bawah standar IEA yang merekomendasikan 90 hari. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah telah mengamankan sumber impor alternatif dari luar Timur Tengah melalui nota kesepahaman Pertamina dengan Chevron dan ExxonMobil.
Biaya logistik. CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi memperkirakan kenaikan harga minyak global sebesar $25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp750–2.000 per liter — yang langsung berdampak pada biaya angkut truk dan harga barang kebutuhan pokok.
Posisi diplomatik. Indonesia menyatakan “penyesalan” atas serangan AS dan Israel ke Iran, namun tidak melontarkan kecaman resmi. Presiden Prabowo Subianto sempat menawarkan mediasi ke Teheran, namun keanggotaan Indonesia di Board of Peace yang digagas AS menjadi hambatan diplomatik tersendiri.
Para peneliti seperti Emaridial Ulza dari Global Trust Intelligence (GTI) UHAMKA mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi Indonesia bukan hanya tekanan ekonomi, melainkan kondisi “strategic invisibility trap” — posisi Indonesia yang tidak hadir secara bermakna dalam persepsi global di tengah konflik besar ini.
Baca Juga Inggris Siapkan Kapal dan 3 Drone Sapu Ranjau di Selat Hormuz
Data Nyata: Krisis Selat Hormuz 2026 dalam Angka
Data dikompilasi dari berbagai sumber, diverifikasi 10 April 2026
| Indikator | Data | Sumber |
| Volume minyak melintas Selat Hormuz | 20–21 juta barel/hari | IEA, Maret 2026 |
| Porsi konsumsi minyak global | 20–25% | Unsoed, Bloomberg |
| Kapasitas jalur alternatif | 15–20% dari volume normal | Media Indonesia, IEA |
| Defisit pasokan bersih saat penutupan | 14,5–16,5 juta barel/hari | Valbury, IEA |
| Harga WTI awal 2026 | $57,72/barel | Valbury |
| Harga WTI puncak (9 Mar 2026) | $115,68/barel (+100,4%) | Valbury |
| Harga Brent puncak 2026 | ~$126/barel | Pluang.com |
| Kenaikan harga emas (Maret 2026) | +5,2% ke $5.246/troy oz | Pluang.com |
| Proyeksi emas Goldman Sachs akhir 2026 | $6.300/troy oz | Pluang.com |
| Korban tewas Lebanon 8 Apr 2026 | 254 orang | Kemenkes Lebanon |
| Total korban Lebanon sejak konflik | 1.739 tewas, 5.873 luka | Laporan media |
| Cadangan BBM Indonesia | sekitar 20 hari | Kementerian ESDM |
| Standar cadangan IEA | 90 hari | IEA |
| Kenaikan harga avtur di Indonesia | +72% sejak 1 April 2026 | Beritaenam.com |
| Nilai tukar rupiah (7 Apr 2026) | Rp17.105/USD (rekor terlemah) | Media Indonesia |
FAQ
Mengapa Iran menutup Selat Hormuz setelah gencatan senjata?
Iran menganggap gencatan senjata dengan AS juga mencakup Lebanon. Ketika Israel menyerang Lebanon hanya beberapa jam setelah gencatan berlaku — menewaskan 254 orang — Teheran menilai kesepakatan itu dilanggar secara sepihak dan merespons dengan menutup kembali selat.
Apakah ada jalur alternatif pengganti Selat Hormuz?
Ada, namun kapasitasnya sangat terbatas. Jalur pipa di Arab Saudi dan UEA hanya bisa menampung sekitar 15–20 persen dari volume normal yang melintas di Selat Hormuz. Defisit pasokan bersih saat penutupan mencapai 14,5–16,5 juta barel per hari.
Berapa lama harga minyak bisa tetap tinggi jika selat terus tertutup?
Lars Jensen, analis energi yang dikutip BBC, mengingatkan bahwa bahkan jika selat dibuka hari ini, stok minyak yang sudah terkuras selama penutupan akan terus menekan pasokan dalam jangka pendek. Goldman Sachs memproyeksikan Brent di $110/barel untuk periode Maret–April 2026.
Apa yang diinginkan Iran agar Selat Hormuz dibuka?
Iran menginginkan penghentian total serangan Israel ke Lebanon sebagai syarat utama. Selain itu, syarat gencatan senjata Iran versi lengkap mencakup penghentian perang di Irak, Lebanon, dan Yaman; pencabutan sanksi; dan kompensasi rekonstruksi penuh.
Bagaimana dampak penutupan ini ke Indonesia?
Indonesia sebagai net importir minyak menghadapi potensi lonjakan subsidi energi hingga Rp515 triliun, kenaikan harga avtur 72 persen, dan rupiah yang tertekan hingga Rp17.105 per dolar AS — rekor terlemah sepanjang sejarah. Cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari.
Apakah perundingan Islamabad pada 10 April bisa menyelesaikan krisis?
Belum ada kepastian. Kedua pihak — AS dan Iran — sudah menetapkan agenda yang sangat berbeda untuk perundingan tersebut. Hambatan utama tetap pada status Lebanon dalam cakupan gencatan senjata. Selama Israel melanjutkan operasinya di Lebanon, Iran tidak memberi sinyal akan membuka selat.
Apakah Hizbullah terlibat langsung dalam krisis ini?
Ya. Hizbullah adalah sekutu utama Iran di Lebanon. Iran menganggap serangan Israel ke Hizbullah sebagai serangan terhadap sekutu yang dilindungi oleh gencatan senjata. Hizbullah sendiri membalas dengan meluncurkan roket ke Manara, Israel utara, pada 9 April 2026.
Apa itu IRGC dan apa peran mereka dalam penutupan selat?
IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps / Korps Garda Revolusi Islam) adalah pasukan militer elite Iran yang secara langsung mengelola kawasan Selat Hormuz. Mereka yang mengeksekusi keputusan penutupan selat, menyiapkan rute alternatif darurat via Pulau Larak, dan mengeluarkan ancaman-ancaman militer terhadap Israel.
Referensi
- Kompas.com — “Iran Dikabarkan Tutup Lagi Selat Hormuz Buntut Israel Serang Lebanon” — diakses 10 April 2026
- Kompas.com — “Gedung Putih Buka Suara Usai Iran Tutup Lagi Selat Hormuz” — diakses 10 April 2026
- Fajar.co.id — “Iran Masih Tutup Selat Hormuz, Agresi Israel terhadap Lebanon Ancam Gagalkan Gencatan Senjata” — diakses 10 April 2026
- Suara.com — “Selat Hormuz Ditutup Lagi Akibat Israel Serang Lebanon” — diakses 10 April 2026
- Valbury Capital — “Operasi Epic Fury: Selat Hormuz Lumpuh, Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Sejarah di Q1 2026” — diakses 10 April 2026
- Pluang.com — “Krisis Selat Hormuz: Guncangan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya bagi Indonesia” — diakses 10 April 2026
- Pluang.com — “Krisis Selat Hormuz 2026: Mengapa Harga Minyak Dunia Meledak” — diakses 10 April 2026
- Universitas Jenderal Soedirman — “Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Kesiapan Energi Indonesia” — diakses 10 April 2026
- Media Indonesia — “Dampak Selat Hormuz Ditutup Krisis Energi Global 2026 dan Ekonomi RI” — diakses 10 April 2026
- Kompas.com — “Hormuz 2026 dan Alarm Ketahanan Energi Indonesia” — diakses 10 April 2026
- Beritaenam.com — “Update Perang Iran April 2026: Kronologi 40 Hari Konflik AS-Iran” — diakses 10 April 2026
- Tatoli.tl — “Iran kembali tutup Selat Hormuz akibat Israel serang Lebanon” — diakses 10 April 2026
- IEA — “Oil Market Report, March 2026” — diakses 10 April 2026
